Kamis, 30 Desember 2010

Film Sunan Gunung Jati


 
Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah (Abdurachman Saleh) cucu Prabu Siliwangi sejak kecil bermukin di Mesir bersama orangtuanya. Ibunya berharap, agar ia bisa mengabdikan diri untuk syiar agama di tanah kelahirannya, Cirebon. Berbagai mujizat untuk menolong rakyat Cirebon dilakukannya, sambil meyakinkan adanya suatu kepercayaan pada Allah. Kemudian ia diangkat sebagai Tumenggung. Pada posisi ini ia terpaksa berhadapan dengan Raja Cakraningrat (Yan Bastian) dari kerajaan Galuh. Sunan tak mau lagi memberi upeti, perangpun terjadi. Sunan mendapat bantuan dari Sultan Demak, Trenggono.
Karena Cakraningrat tak dapat dikalahkan, Sunan mengutus Nyimas Gandasari (Ricca Rachim) muridnya untuk mencuri jimat kesaktian Cakraningrat. Maka kesaktian Sunan mengakhiri perang.
Starring : Abdurachman Saleh, Ricca Rachim, W.D.Mochtar
Genre : Drama | Sejarah
Download Film [760MB-mkv]|mf|password=SGJ
Sunan Gunung Jati part1
Sunan Gunung Jati part2
Sunan Gunung Jati part3
Sunan Gunung Jati part4

SUNAN GUNUNG JATI, WIBAWA POLITIK SEORANG WALI

 
Melalui Sunan Gunung Jati, kisah walisanga menginjak Jawa Barat, karena riwayat Sunan Gunung Jati terhubungkan dengan dua situs sejarah yang penting dalam Islamisasi di Jawa Barat, yakni Banten dan Cirebon. Nama Gunung Jati sendiri ternisbahkan dari tempat pemakamannya, sebuah bukit rendah di Cirebon, jadi tentu gelar yang didapatkan setelah wafat. Lantas dikenal dengan nama siapakah ia sebelumnya?
Hoesein Djajadiningrat dalam disertasinya Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten (1913) sama sekali tidak memberikan nilai sejarah kepada kisah Lara Santang, kakaknya Walang Sungsang, maupun ayah mereka, Siliwangi, dalam Tjarita Tjaruban (tentu nama lain Cirebon) yang menyebutkan nama Syarif Hidayat sebagai anak Nyai Lara Santang yang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud dari Mesir, dan konon lahirnya di Mekkah. Disebutkan bahwa Syarif Hidayat kembali ke Jawa melalui Gujarat di India dan Pasai di Aceh untuk menjadi penyebar agama di Jawa Barat dengan gelar Susuhunan Jati dan menjadi cikal bakal Kerajaan Cirebon.
Kita ikuti ulasan Hoesein dalam tanggapan terhadap sejarawan lain, untuk mendapatkan gambaran betapa tak mudah menyusun sejarah:
“… kita bukan hendak mengatakan, bahwa Sunan Gunung Jati mustahil seorang keturunan Arab, melainkan maksud kita hanyalah menunjukkan, bahwa tradisi-tradisi tentang ini dari sudut sejarah sama sekali tidak berharga, dan bahwa dengan demikian kita tak boleh mengambil alasan bukti daripadanya terhadap penetapan kesamaan dari beliau dengan Faletehan, yang tentangnya Baros mengatakan, bahwa beliau adalah ‘kelahiran pulau Sumatra, dari kerajaan Pasai’. Selain dari itu, keterangan ini tidak menutup kemungkinan bahwa Faletehan mempunyai darah Arab dalam badannya. Tetapi atas dasar persamaan tersebut, kita hanya bisa mengatakan, bahwa Sunan Gunung Jati adalah seorang Pasai.”
Cerita rakyat maupun berita musafir asing (dengan segenap salah tafsirnya) tentang Sunan Gunung Jati memang cukup banyak versinya, dan boleh dibilang cukup simpang siur, sehubungan dengan berbagai nama lain seperti Faletehan, Tagaril, maupun Nurullah. Nama Faletehan dan Tagaril, menurut Djajadiningrat, adalah kekeliruan para penyalin Portugis: Faletehan terkacaukan dari kata Arab Fath yang berarti kemenangan ketika Nurullah dari Banten menundukkan Sunda Kelapa, dan Tagaril dengan Fakhru’llah – salah tulis para penyalin telah mengakibatkan perubahan semacam ini.
“Dipandang sebagai orang keramat yang besar, terjadilah bermacam-macam legenda di sekeliling beliau, yang semakin ke mari semakin khayal sifatnya. Nama beliau yang sebenarnya tidak kita ketahui. Tradisi-tradisi kemudian memberikan kepada beliau nama-nama yang banyak jumlahnya, tapi yang ketulenannya diragukan. Barros menamai beliau Faletehan dan Pinto menyebut nama Tagaril, keduanya tentulah perancuan dari nama-nama anak negeri, tapi nama-nama yang tidak dapat dikembalikan kepada aslinya,” tulis Djajadiningrat, yang dalam disertasinya itu telah bekerja keras, antara lain untuk menemukan persamaan antara Faletehan, Tagaril, dan Sunan Gunung Jati sebagai satu saja tokoh historis – yang dengan rendah hati disebutnya sebagai dugaan.
Tarekat dan Pan-Islamisme
Adapun nama Nurullah muncul dalam Hikayat Hasanuddin dan disebut sudah bergelar Syekh. De Graaf dan Pigeaud menuturkan dalam karya babon mereka, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974), dengan direbutnya Pasai oleh Portugis pada 1521, Nurullah keluar dari Aceh dan pergi ke Mekkah. Sulitnya perjalanan dan peperangan di mana-mana (Turki menduduki Mesir pada 1517 misalnya, sebagai produk semangat Pan-Islamisme) menunjukkan bahwa keberangkatannya dilandasi semangat keagamaan yang kuat.
Nurullah kembali tahun 1524 dari Tanah Suci, tidak pulang ke Pasai, melainkan ke Pulau Jawa pada masa kekuasaan Sultan Tranggana di Demak. Tentang ilmu agama macam apa yang dipelajarinya, kita baca pemeriksaan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya 2, Jaringan Asia (1990):
“Adapun dalam hal Jawa, sekali lagi perlu dilihat kesaksian Hikayat Hasanuddin yang menyebut tarekat-tarekat dalam hubungan dengan tinggalnya Sunan Gunung Jati di Mekkah. Wali yang berkuasa itu konon dipersiapkan tidak hanya sebagai pengikut tarekat Naqsybandiyah, tetapi juga sebagai pengikut tarekat Syattariyah dan Syadiliyah. Hendaknya dicatat pula bahwa Cirebon yang merupakan salah satu dari dua pintu Islam Jawa Barat, bersama dengan Banten, agaknya sudah lama menjadi tempat yang digemari anggota-anggota tarekat.”
Kelebihan pengetahuannya tentang agama maupun politik Islam internasional mungkin membuatnya dikenal, bahkan menjadi sumber pertimbangan Tranggana, yang kemudian menikahkan Nurullah dengan saudara perempuannya. Sekadar data, saat itu Pasai sudah dua abad lebih beragama Islam, sementara Tranggana yang keturunan Tionghoa baru beberapa puluh tahun masuk Islam sebagai turunan Fatah penguasa pertama Demak. Diperkirakan, penggunaan gelar Sultan dan politik ekspansi Demak, atas nama Islam, adalah pengaruh Nurullah. Bagian dari kebijakan ini adalah, agar Nurullah pergi ke Banten, mengingat wilayah yang disebut Sunda masih dikuasai Kerajaan Pajajaran, yang bukan hanya “kafir”, tapi juga telah membuat perjanjian persahabatan dengan Portugis, melalui Kapten Henrique Leme pada 1522.
Lahirnya Jakarta
Banten sudah merupakan pelabuhan penting di bawah kekuasaan raja-raja Sunda. Tak jelas siapa yang sedang berkuasa di Banten ketika Nurullah tiba, tetapi dengan bantuan militer Demak ia segera menguasai kota itu, dan dari sini segera dikuasainya Sunda Kelapa, sebuah pelabuhan tua yang terlambat dikuasai Portugis, sekitar tahun 1527. Perebutan Sunda Kelapa agaknya seru, karena Pajajaran tentu berusaha keras mempertahankan pelabuhan penting itu, sehingga keberhasilannya perlu ditandai dengan perubahan nama, menjadi Jayakarta atau Surakarta. Adapun jaya adalah kemenangan dan sura berarti pahlawan, politik Islamisasi dalam perebutan itu mungkin salah satu pertimbangan Djajadiningrat untuk menyebutkan hari Maulud tahun 933 Hijriah atau 17 Desember 1526 sebagai tanggal perebutan.
Orang-orang Portugis tiba pada 1527 dengan maksud mendirikan kantor dagang. Mereka yang telah membuat perjanjian lima tahun sebelumnya tidak menduga Sunda Kelapa sudah berganti penguasa. Mereka terusir dengan kekerasan. Sebagai tanda penghargaan dan tentu persiapan menghadapi balasan, Tranggana mengirim meriam Kiai Jimat pada 1528/1529 Masehi atau 1450 Jawa. Namun meriam ini adalah bikinan orang Portugis yang pindah agama dan membelot ke Demak yang dipanggil Khoja Zainul-Abidin. Kebijakan alih teknologi meriam ini tentu karena pengalaman pahit gagalnya serangan laut Demak ke Malaka yang dikuasai Portugis.
Dari Sunda Kelapa, para penguasa Islam ini tidak menyerbu ke pedalaman tempat terdapatnya Kerajaan Pakuan, melainkan bergerak menguasai kota-kota pelabuhan sepanjang pantai utara Jawa saja, sehingga mencapai Cirebon, yang sejak lama telah menjadi kota dagang kaum peranakan Tionghoa Muslim. Kota yang sebenarnya sudah lama di bawah pengaruh Demak ini diserahkan Tranggana kepada penguasa Banten.
Bertugas di dua daerah sekaligus tidaklah mudah bagi Nurullah. Semasa masih berkuasa di Banten, ia disebutkan sekali-sekali tinggal di Cirebon. Dalam Sadjarah Banten disebutkan sampai tahun 1552 ia masih berada di Banten, dan Cirebon telah diserahkan kepada putranya yang dikenal sebagai Pangeran Pasareyan. Putranya itu meninggal tahun 1552 tersebut, sehingga ia memutuskan pindah untuk seterusnya ke Cirebon.
Melemahnya kekuasaan Demak sepeninggal Tranggana pada 1546 setelah menyerbu Panarukan di ujung timur Jawa, layak diduga sebagai pendukung keputusannya itu. Kekuasaan Banten diserahkannya kepada Hasanuddin, putranya yang lain, yang nantinya akan menyebarkan Islam sampai Lampung. Namun semenjak perpindahan, dan terutama setelah Nurullah meninggal pada 1570, hubungan keluarga kerajaan Banten dan kerajaan Cirebon yang kemudian terbentuk, yang sebetulnya sedarah ini, semakin lama semakin renggang.
Permainan kekuasaan
Ketika pindah dan akhirnya menetap di Cirebon, usia Nurullah sudah 60 tahun lebih. Rupanya usia itu belum terlalu tua baginya untuk mengubah Cirebon, yang sebagai kota keturunan Tionghoa tak terlalu bebas selama Tranggana masih hidup. Betapapun Cirebon lebih dekat ke Demak, dan istrinya berasal dari Demak. Jika Demak dianggap sebagai pusat kehidupan Islam masa itu di Jawa Tengah, Banten memang akan terasa sebagai tempat terpencil di ujung barat. Namun Cirebon sendiri tak sepenuhnya lebih dekat dari sudut kebudayaan dengan Demak. Cerita tutur, seperti dikutip dari De Graaf dan Pigeaud, meriwayatkan tentang kebudayaan Cirebon yang terbentuk oleh peradaban Majapahit, yang diwarisi oleh para penguasanya sebelum kedatangan orang-orang Islam yang mengusir mereka. Sampai sekarang gaya keraton-keraton di Cirebon masih menunjukkan pengaruh itu.
Disebutkan, adalah karena Sunan Gunung Jati maka Cirebon menjadi ibukota kerajaan yang merdeka. Baik diperhatikan istilah “merdeka” di sini, yang tidak dicapai melalui pemberontakan, melainkan berkat kewibawaan rohani orang suci yang kelak disebut Sunan Gunung Jati tersebut. Terbukti dari posisi Cirebon dalam sejarah menghadapi bangkit dan runtuhnya berbagai kerajaan besar, dari Demak sampai Pajang dan Mataram, bahkan sampai penguasaan Kompeni. Memang Cirebon selalu mengakui kekuasaan para penguasa pedalaman itu, tetapi wibawa keagamaan telah membuat mereka sangat dihormati.
Dalam legenda, yang diakui kemungkinannya untuk pernah terjadi oleh De Graaf dan Pigeaud, disebutkan perkara kunjungan Sahid dari Tuban ke Cirebon untuk menghadap orang suci Nurullah ini. Sahid yang kelak disebut Sunan Kalijaga telah dinikahkan pula dengan salah seorang anak perempuannya. Adalah rekomendasi Nurullah kepada Sahid, yang akan diterima iparnya, Sultan Tranggana, membuat bangsawan Tuban yang orangtuanya pejabat Majapahit ini diterima dengan penghormatan tinggi di Demak. Akibatnya, penghulu Mesjid Demak pindah dan mendirikan kota suci Kudus.
Bukankah masuk akal untuk mempertimbangkan, bahwa Tranggana meminjam wibawa Nurullah untuk memasukkan Sahid, bintang muda pendakwah yang menghormati bahkan memanfaatkan tradisi pra-Islam, masuk Demak, guna menyingkirkan wali normatif garis keras yang kelak bernama Sunan Kudus itu? Pernah disebutkan, penyebab perpindahan itu memang perselisihan. Jika tidak, kenapa pula mesti mendirikan kota suci setelah ada Demak dengan mesjid agungnya itu? Cerita tentang kedatangan Sahid ke Cirebon tidak terhadirkan begitu saja tanpa makna politis. Setidaknya itu menunjukkan besarnya pengaruh Sunan Gunung Jati.
Pembangun dua kota
Peranan dan jasa Sunan Gunung Jati juga bisa dilihat dari pembahasan Denys Lombard atas kedua kota yang dibangunnya:
“Kemunculan serentak dari Banten dan Cirebon merupakan salah satu peristiwa paling menonjol dari sejarah Jawa itu. Banten terutama, yang kapal-kapalnya oleh Pires pun sudah dikatakan berlayar sampai Maladewa, akan mengalami kemajuan pesat luar biasa. Hasanuddin memperluas kewibawaannya ke arah pedalaman dan terutama ke bagian selatan daerah Lampung yang selanjutnya masuk lingkungan Jawa Barat. Mungkin sekali di bawah pemerintahannya (1552/1570) perkebunan lada dikembangkan dengan pesat (seperti diberitakan oleh Pires) dan menghasilkan kekayaan bagi kesultanan selama abad berikutnya. Yusup, anak dan penggantinya, lebih jauh lagi memasuki pedalaman Pasundan, dengan tiba-tiba merebut Pakuan, ibukota kerajaan Pajajaran yang Hindu-Sunda (1579) dan menggalakkan pengislaman.”
Perhatikan pula model pengetahuan Nurullah dari Pasai ini dalam tatakota, seperti terekam dalam Hikayat Hasanuddin dan dikutip Lombard dalam buku yang sama, sebagai nasihat kepada Hasanuddin yang diserahi Banten:
“Engkau harus membangun sebuah benteng (kota), menciptakan pasar, merencanakan sebuah alun-alun. Dan terutama, jangan kau pindahkan batu yang kau pakai sebagai takhta, karena itu akan menjadi tanda kehancuran kerajaanmu; itulah kemauan Allah.’ Batu kerajaan itu tidak lain dari Watu Gigilang, batu persegi besar yang dewasa ini masih kelihatan tidak jauh dari mesjid besar. Beberapa petikan di atas dengan cukup jelas menunjukkan bahwa dalam pikiran orang kelahiran sebuah kota baru hanya dapat berlangsung dengan upacara; sebelum situs baru mulai dibangun, penguasa harus memeriksa apakah para dewa – atau Allah yang Esa – menyetujui bahwa manusia menempati tempat itu.” Disebutkan bahwa semasa hidupnya kemungkinan ia sudah memakai gelar susuhunan. Usianya diperkirakan lebih dari 80 tahun. Gunung Jati, tempat ia dimakamkan, mungkin pernah menjadi tempat tinggalnya. Tempat itu kadang terancukan dengan Gunung Sembung, mengacu sebuah bukit di seberang makamnya, yang juga telah menjadi bukit kuburan-kuburan tua, tetapi selalu dan selalu dikunjungi para peziarah yang takzim – mengingatkan betapa tak berjaraknya hidup dan mati …

0 komentar:

Poskan Komentar